Gairah Direktur Muda

itil service

Awal aku mengenalnya pada saat dia mengundang perusahaan tempatku bekerja untuk memberikan penjelasan lengkap mengenai produk yg akan dipesannya. Sebagai marketing, perusahaan mengutusku untuk menemuinya. Pada awal pertemuan siang itu, aku sama sekali tidak menduga bahwa Ibu Katzia yg kutemui ternyata pemilik langsung perusahaan.
Wajahnya cantik, kulitnya putih laksana pualam, tubuhnya tinggi langsing sekitar 175 cm dgn dada yg menonjol indah. Dan pinggulnya yg dibalut span ketat membuat bentuk pinggangnya yg ramping kian mempesona, juga pantatnya wah.. sungguh sangat montok, bulat dan masih kencang.

Sepanjang pembicaraan dgnnya, konsentrasiku tidak 100%, melihat gaya bicaranya yg intelek, gerakan bibirnya yg sensual saat sedang bicara, apalagi kalau sedang menunduk belahan buah dadanya nampak jelas, putih dan besar.


Di sofa yg berada di ruangannya yg mewah dan lux, kami akhirnya sepakat mengikat kontrak kerja. Sambil menunggu sekretaris Ibu Katzia membuat kontrak kerja, kami mengobrol kesana-kemari bahkan sampai ke hal yg agak pribadi. Aku berani bicara kearah sana karena Ibu Katzia sendiri yg memulai. Dari pembicaraan itu, baru kuketahui bahwa umurnya baru 26th, dia memegang jabatan direktur sekaligus pemilik perusahaan menggantikan almarhum suaminya yg meninggal karena kecelakaan pesawat.
“Pak Farid sendiri umur berapa”, bisiknya dgn nada mesra.

“Saya usia 28th, Bu!” balasku.

“sudah berkeluarga”, pertanyaannya semakin menjurus, aku sampai GR sendiri.

“Belum, Bu!”

Tanpa kutanya, Ibu Katzia menerangkan bahwa sejak kematian suaminya setahun lalu, dia belum mendapatkan penggantinya.

“Ibu cantik, masih muda, saya rasa seribu lelaki akan berlomba mendapatkan Ibu Katzia”, aku sedikit memujinya.

“Memang, ada benarnya juga yg Bapak Farid ucapkan, tapi mereka rata-rata juga mengincar kekayaan saya”, nadanya sedikit merendah.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu, Ibu Katzia bangkit berdiri membukakan pintu, ternyata sekretarisnya telah selesai membuat kontrak kerjanya.

“Kalau begitu, saya permisi pulang, Bu!, semoga kerjasama ini dapat bertahan dan saling menguntungkan”, aku segera pamit dan mengulurkan tangan.

“Semoga saja”, tangannya menyambut uluran tanganku.

“Terima kasih atas kunjungannya, pak Farid.”

Cukup lama kami bersalaman, aku merasakan kelembutan tangannya yg bagaikan sutera, namun sebentar kemudian aku segera menarik tanganku, takut dikira kurang ajar. Namun naluri laki-lakiku bekerja, dgn halus aku mulai merancang strategi mendekatinya.

“Oh ya, Bu Katzia, sebelum saya lupa, sebagai perkenalan dan mengawali kerjasama kita, bagaimana kalau Ibu Katzia saya undang untuk makan malam bersama”, aku mulai memasang jerat.

“Terima kasih”, jawabnya singkat.

“Mungkin lain waktu, saya hubungi Pak Farid, untuk tawaran ini.”

“Saya tunggu, Bu.. permisi”

Aku tak mau mendesaknya lebih lanjut. Aku segera meninggalkan kantor Ibu Katzia dgn sejuta pikiran menggelayuti benakku. Sepanjang perjalanan, aku selalu terbayg kecantikan wajahnya, postur tubuhnya yg ideal. Ah.. kayaknya semua kriteria cewek idaman ada padanya.

Tak terasa satu bulan sejak pertemuan itu, meskipun aku sering mampir ke tempat Ibu Katzia dalam kurun waktu tersebut, tapi tidak kutemui tanda-tanda aku bisa mengajaknya sekedar Dinner. Meskipun hubunganku dgnnya menjadi semakin akrab.

Menginjak bulan ke-2, akhirnya aku bisa mengajaknya keluar sekedar makan malam. Aku ingat sekali waktu itu malam Minggu, kami bagai sepasang kekasih, meskipun pada awalnya dia ngotot ingin menggunakan mobilnya yg mewah, akhirnya dia bersedia juga menggunakan mobil Katanaku yg bisa bikin perut mules.

Cerita Mesum | Beberapa kali malam Minggu kami keluar, sungguh aku jadi bingung sendiri, aku hanya berani menggenggam jarinya saja, itupun aku gemetaran, degup-degup di jantungku terasa berdetak kencang padahal hubungan kami sudah sangat dekat, bahkan aku dan dia sama-sama saling memanggil nama saja, tanpa embel-embel Pak atau Bu.
Sampai pada malam Minggu yg kesekian kalinya, kuberanikan diri untuk memulainya, waktu itu kami di dalam bioskop. Dalam keremangan, aku menggenggam jarinya, kuelus dgn mesra, kelembutan jarinya mengantarkan desiran-desiran aneh di tubuhku, kucoba mencium tangannya pelan, tidak ada respon, kulepas jemari tangannya dgn lembut. Kurapatkan tubuhku dgn tubuhnya, kupandangi wajahnya yg sedang serius menatap layar bioskop.

Dgn keberanian yg kupaksakan, kukecup pipinya. Dia terkejut, sebentar memandangku. Aku berpikir pasti dia akan marah, tapi respon yg kuterima sungguh membuatku kaget. Dgn tiba-tiba dia memelukku, mulutnya yg mungil langsung menyambar mulutku dan melumatnya.

Sekian detik aku terpana, tapi segera aku sadar dan balas melumat bibirnya, ciumannya makin ganas, lidah kami saling membelit mencoba menelusuri rongga mulut lawan. Sementara tangannya semakin kuat mencengkram bahuku.

Aku mulai beraksi, tanganku bergerak merambat ke punggungnya, kuusap lembut punggungnya, bibirku yg terlepas menjalar ke lehernya yg jenjang dan putih, aku menggelitik belakang telinganya dgn lidahku.

“Katzia, aku sayg kamu”, kubisikkan kalimat mesra di telinganya.

“Rid, akupun sayg kamu”, suaranya sedikit mendesah menahan birahinya yg mulai bangkit.

Dan saat tanganku menyusup ke dalam blousnya, erangannya semakin jelas terdengar. Aku merasakan kelembutan buah dadanya, kenyal. Kupilin halus putingnnya, sementara tanganku yg satunya menelusuri pinggangnya dan meremas-remas pinggulnya yg sangat bahenol.

Segera kubuka kancing blous bagian depannya, suasana bioskop yg gelap sangat kontras sekali dgn buah dadanya yg putih. Perlahan kukeluarkan buah dadanya dari branya, kini di depanku terpampang buah dadanya yg sangat indah, kucium dan kujilat belahannya, hidungku bersembunyi diantara belahan dadanya, lidahku yg basah dan hangat terus menciumi sekelilingnya perlahan naik hingga ke bagian putingnya.

Kuhisap pelan putingnya yg masih mungil, kugigit lembut, kudorong dgn lidahku. Katzia semakin meracau. Tanganya menekan kuat kepalaku saat putingnya kuhisap agak kuat. Sementara aku merasakan gerakan di celanaku semakin kuat, k0ntolku sudah menegang maksimal.

Tanganku yg satunya sudah bergerak ke pahanya, spannya kutarik ke atas hingga batang pahanya tampak mulus, putih. Kubelai, kupilin pahanya sementara mulutku mengisap terus puting buah dadanya kiri dan kanan. Dan saat jariku sampai di pangkal pahanya, aku menemukan CDnya. Perlahan jari-jariku masuk lewat celah celana dalamnya, kugeser ke kiri, akhirnya jari-jariku menemukan rambut memeknya yg sangat lebat.

Dgn tak sabar, kugosokkan jariku di klitorisnya sementara mulutku masih asyik menjilati puting buah dadanya yg semakin mencuat ke atas pertanda gairahnya sudah memuncak, meskipun jari-jariku sedikit terhalang celana dalamnya tapi aku masih dapat menggesek klitorisnya, bahkan dgn cepat kumasukkan jariku ke dalam celahnya yg lembat, terasa agak basah. Jariku berputar-putar di dalamnya, sampai kutemukan tonjolan lembut bergerigi di dalam memeknya, kutekan dgn lembut G-spotnya itu, kekiri dan kekanan perlahan.

“Achhh… Farid.. aku sudah nggak tahan.. Terus Rid … oh…” Suaranya makin keras, birahinya sudah dipuncak. Tangannya menekan kepalaku ke buah dadanya hingga aku sulit bernafas, sementara tangan yg satunya menekan tanganku yg di memeknya semakin dalam. Akhirnya kurasakan seluruh tubuhnya bergetar, kuhisap kuat puting susunya, kumasukkan jariku semakin dalam.

“Ahhh… oh.. Rid.. aku ke..lu..ar…” Kurasakan jariku hangat dan basah. “Makasih Rid, sudah lama aku tak merasakan kenikmatan ini.” Aku hanya bisa diam, menahan tegangnya k0ntolku yg belum terlampiaskan tapi rupanya Katzia sangat pengertian. Dgn lincahnya dibukanya reitsleting celanaku, jari-jarinya mencari k0ntolku. Aku membantunya dgn menggerakan sedikit tubuhku. Saat tangannya mendapatkan apa yg dicarinya, sungguh reaksinya sangat hebat.

“Oh… besar sekali Rid.. aku suka.. aku suka barang yg besar..” Katzia seperti anak kecil yg mendapatkan permen.

Cerita Ngentot | K0ntolku yg sudah kaku perlahan dikocoknya, aku merasakan nikmat atas perlakuannya, sementara tangannya asyik mengocok batang k0ntolku, tangan satunya membuka kancing bajuku, mulutnya yg basah menciumi dadaku dan menjilati putingku, sesekali Katzia menghisap putingku. Aliran darahku semakin panas, gairahku makin terbakar. Aku merasakan spermaku sudah mengumpul di ujung, sementara kepala k0ntolku semakin basah oleh pelumas yg keluar.
“Katzia, aku sudah nggak tahan…”

“Tahan sebentar, Rid..”

Katzia melepaskan jilatan lidahnya di dadaku dan langsung memasukkan k0ntolku ke dalam mulutnya, aku merasakan kuluman mulutnya yg hangat dan sempit. Kulihat mulutnya yg mungil sampai sesak oleh kemaluanku. Katzia semakin kuat mengocok batang k0ntolku ke dalam mulutnya. Akhirnya kakiku sedikit mengejang untuk melepaskan spermaku.

“Awas Bell, aku mau keluar..” kutarik rambutnya agar menjauh dari batang k0ntolku, tapi Katzia malah memasukkan k0ntolku ke dalam mulutnya lebih dalam, aku tak tahan lagi, kulepaskan tembakanku, 7 kali denyutan cukup memenuhi mulutnya yg mungil dgn spermaku. Katzia dgn lahap langsung menelannya dan membersihkan cairan yg tertinggal di kepala k0ntolku dgn lidahnya. Aku menarik nafas panjang mengatur degup jantungku yg tadi sangat cepat.

Setelah lampu menyala kembali pertanda pertunjukan telah usai, kami sudah rapi kembali. Kulihat jam di pergelangan tanganku menunjukan pukul 10.00 malam. Aku langsung mengantarnya pulang, dalam perjalanan kami tak banyak bicara, kami saling memikirkan kejadian yg baru saja kami alami bersama.

Sampai di rumahnya yg mewah di bilangan Pluit, aku langsung ditariknya menuju kamar pribadinya yg sangat luas. “Rid, saya belum puas, kita teruskan permainan yg tadi..” Tangannya langsung membuka kancing bajuku dan mulai membangkitkan gairahku, sementara pikiranku semakin bingung, kenapa Katzia yg tadinya kalem bisa berubah ganas begini? Tapi pikiranku kalah dgn gairah yg mulai berkobar di dadaku, terlebih saat tangannya dgn lihai mengusap dadaku. Bagai musafir seluruh tubuhku dicium dan dijilatinya dgn penuh nafsu. Aku pun tak mau kalah sigap, di ranjangnya yg empuk kami bergulat saling memilin, melumat, dan saling menghisap.

Saat pakaian kami mulai tertanggal dari tempatnya. Kami saling melihat, aku melihat kesempurnaan tubuhnya, apalagi di daerah selangkangannya yg putih bersih, sangat kontras dgn bulu memeknya yg sangat hitam dan lebat. Dan Katzia memandangi k0ntolku yg mengacung menunjuk langit-langit kamar.

Hanya sebentar kami berpandangan, aku langsung meraih tubuhnya dan memapahnya ke ranjang. Kuletakkan hati-hati tubuhnya yg gempal dan lembut, aku mulai menciumi seluruh tubuhnya, lidahku menari-nari dari leher sampai ke jari-jari kakinya. Kuhisap puting buah dadanya yg kemerahan, kujilat dan sesekali kugigit mesra. Ssementara tanganku yg lain meremas-remas pinggul dan pantatnya yg sangat kenyal.

Pergulatan kami semakin seru, kini posisi kami berbalikan seperti angka 69, kami saling menghisap puting dada. Saat aku memainkan puting dadanya yg sudah mencuat, lidahnya menjilati putingku. Aku turun menjilati perutnya, kurasakan juga perutku dijilati dan akhirnya lidah kami saling menghisap kemaluan.

Aku merasakan hangat di kepala k0ntolku saat lidahku menari-nari menelusuri celah memeknya, lidahku semakin dalam masuk ke dalam celah kewanitaannya yg telah basah, kuhisap klitorisnya kuat-kuat, kurasakan tubuhnya bergetar hebat.

Lima belas menit sudah kami saling menghisap, nafsuku yg sudah di ubun-ubun menuntut penyelesaian. Segera aku membalikkan tubuhku. Kini kami kembali saling melumat bibir, sementara k0ntolku yg sudah basah oleh liurnya kuarahkan ke celah pahanya, sekuat tenaga aku mendorongnya namun sulit sekali. Tubuh kami sudah bersimbah peluh.

Akhirnya tak sabar tangan Katzia memandu k0ntolku, setelah sampai di pintu memeknya, kutekan kuat, Katzia membuka pahanya lebar-lebar dan k0ntolku melesak ke dalam memeknya. Kepala k0ntolku sudah berada di dalam celahnya, hangat dan menggigit. Kutahan pantatku, aku menikmati remasan memeknya di batanganku. Perlahan kutekan pantatku, k0ntolku amblas sedalam-dalamnya. Gigi Katzia yg runcing tertancap di lenganku saat aku mulai menaikturunkan pantatku dgn gerakan teratur.

Remasan dan gigitan liang kewanitaannya di seluruh batang k0ntolku terasa sangat nikmat. Kubalikan tubuhnya, kini tubuh Katzia menghadap ke samping. K0ntolku menghujam semakin dalam, kuangkat sebelah kakinya ke pundakku. Batang k0ntolku amblas sampai mentok di mulut rahimnya. Puas dari samping, tanpa mencabut k0ntolku, kuangkat tubuhnya, dgn gerakan elastis kini aku menghajarnya dari belakang.

Tanganku meremas bongkahan pantatnya dgn kuat, sementara k0ntolku keluar masuk semakin cepat. Erangan dan rintihan yg tak jelas terdengar lirih, membuat semangatku semakin bertambah. Ketika kurasakan ada yg mau keluar dari kemaluanku, segera kucabut k0ntolku. “Pllop..” terdengar suara saat k0ntolku kucabut, mungkin karena ketatnya lubang kemaluan Katzia mencengkram k0ntolku.

“Achh, kenapa Rid.. aku sedikit lagi”, protes Katzia. Dia langsung mendorong tubuhku, kini aku telentang di bawah, dgn sigap Katzia meraih k0ntolku dan memasukkannya ke dalam lubang sorganya sambil berjongkok.

Cerita Dewasa | Kini Katzia dgn buasnya menaikturunkan pantatnya, sementara aku di bawah sudah tak sanggup rasanya menahan nikmat yg kuterima dari gerakan Katzia, apalagi saat pinggulnya sambil naik-turun digoygkan juga diputar-putar, aku bertahan sekuat mungkin.
Satu jam sudah berlalu, kulihat Katzia semakin cepat bergerak, cepat hingga akhirnya aku merasakan semburan hangat di k0ntolku saat tubuhnya bergetar dan mulutnya meracau panjang. “Oh.. aku puas Rid, sangat puas..” tubuhnya tengkurap di atas tubuhku, namun k0ntolku yg sudah berdenyut-denyut belum tercabut dari memeknya. Kurasakan buah dadanya yg montok menekan tubuhku seirama dgn tarikan nafasnya.

Setelah beberapa saat, aku sudah merasakan air maniku tidak jadi keluar, segera kubalikkan tubuhnya kembali. Kini dgn gaya konvensional aku mencoba meraih puncak kenikmatan, memeknya yg agak basah tidak mengurangi kenikmatan. Aku terus menggerakkan tubuhku.

Perlahan gairahnya kembali bangkit, terlebih saat batang k0ntolku mengorek-ngorek lubang memeknya kadang sedikit kuangkat pantatku agar G-spotnya tersentuh. Kini pinggul Katzia yg seksi mulai bergoyang seirama dgn gerakan pantatku. Jari-jarinya yg lentik mengusap dadaku, putingku dipilin-pilinnya, hingga sensasi yg kurasakan tambah gila.

Setengah jam sudah aku bertahan dgn gaya konvensional. Perlahan aku mulai merasakan cairanku sudah kembali ke ujung kepala k0ntolku. Saat gerakanku sudah tak beraturan lagi, berbarengan dgn hisapan Katzia pada putingku dan pitingan kakinya di pinggangku, kusemprotkan air maniku ke dalam memeknya, kami berbarengan orgasme.

Sejak kejadian itu, kami sering melakukannya. Aku baru tahu bahwa gairahnya sangat tinggi, selama ini dia bersikap alim, karena tidak mau sembarangan main dgn cowok. Dia mau dgnku karena aku sabar, baik dan tidak mengejar kekayaannya. Apalagi begitu dia tahu bahwa k0ntolku dua kali lipat mantan suaminya, tambah lengket saja. Memang yg kukejar hanyalah kenikmatan dunia yg didasari Cinta.

itil foundation

itil video review